virgie-baker-partai-nasdem-banner

Pariwisata dan Ekonomi Rakyat

Share with:


Oleh Virgie Baker*

PRESIDEN Joko Widodo telah menetapkan enam sektor yang akan menjadi fokus pembangunannya pada 2017 ini. Salah satunya adalah pariwisata. Sektor itu dianggap mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang strategis bagi negeri. Keseriusan tersebut terlihat dengan telah ditandatanganinya Peraturan Presiden Nomor 21 tentang Bebas Visa Kunjungan bagi 169 negara selama 30 hari pada Maret 2016. Indonesia bebas visa kunjungan bertujuan mempermudah wisatawan yang ingin berkunjung ke Indonesia. Berkaca dari terobosan tersebut, kita bisa melihat ada pergeseran dalam paradigma pembangunan Indonesia yang dilakukan pemerintah sekarang.

Pemerintah mencoba melakukan langkah pasti dan konkret dengan mengubah sektor yang selama ini hanya sekunder menjadi primer. Terobosan itu tentunya patut diapresiasi. Apalagi jika kita tahu, sebelumnya pemerintah lebih cenderung mengandalkan atau bertumpu pada eksplotasi sumber daya alam, seperti minyak, batu bara, timah, dan emas. Semua sumber daya alam tersebut menjadi komoditas utama untuk mengejar anggaran belanja.

Tren positif

Menurut The Travel and Tourism Competitiveness Report 2017, pariwisata Indonesia kini menempati posisi ke-42 dari 136 negara tujuan wisata, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya. Data itu menunjukkan tren positif kunjungan wisatawan ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2014, jumlah wisatawan yang mengunjungi pariwisata Indonesia berkisar 9,44 juta orang. Pada 2015 angka itu mencapai 10,4 juta orang. Sementara itu, pada 2016 naik menjadi 11,5 juta orang. Presiden Joko Widodo sendiri menargetkan ada 20 juta wisatawan yang bisa datang ke Indonesia pada 2019 nanti. Angka itu ekuivalen dengan Rp280 triliun yang bisa menjadi devisa negara.

Pemerintah sepertinya sadar bahwa pariwisata hari ini sudah dianggap sebagai katalisator pembangunan. Artinya, sektor pariwisata ialah faktor yang bisa mempercepat proses pembangunan itu sendiri, seperti pembangunan infrastruktur dan akses transportasi. Impak lebih lanjutnya ialah memperbanyak kesempatan kerja, mempercepat pemerataan pendapatan, meningkatkan pajak negara, serta retribusi daerah. Tidak hanya itu, hal ini juga bisa mendorong pertumbuhan pembangunan wilayah yang memiliki potensi alam dan potensi sejarah.

Muara dari semua ini ialah pengaruh secara signifikan terhadap pendampatan negara. Secara khas, dampak positif dari peningkatan industri pariwisata, khususnya pada negara-negara berkembang, jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari selama dua dekade terakhir. Yang paling populer ialah tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha kuliner, terutama yang berbasis masakan khas daerah. Selain itu, cendera mata yang menonjolkan ornamen dan keunikan lokal turut menjadi dampak lanjutan dari keseriusan pengelolaan terhadap industri wisata. Belum lagi pelestarian arsitektur tradisional dan gedung-gedung bersejarah, munculnya grup pemandu wisata dan penerjemah, tumbuhnya lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata, pertumbuhan ekonomi digital dari agen-agen perjalanan dan wisata, hingga berkembangnya bisnis penginapan pada hampir setiap daerah tujuan wisata.

Manifestasi kesadaran itu tampak pada kebijakan pemerintah yang telah menetapkan sepuluh daerah prioritas tujuan pariwisata, antara lain Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai. Pemerintah juga membangun infrastruktur untuk mempermudah akses menuju destinasi yang diharapkan menjadi idola baru para wisatawan tersebut. Pemerintah pun tidak lupa mengajak para investor untuk turut serta membangun berbagai kebutuhan yang dapat membuat nyaman para wisatawan.

Sepuluh daerah yang menjadi prioritas pemerintah tersebut memiliki semua syarat untuk menjadi tujuan wisata yang akan membuat banyak kalangan datang hingga kemudian diharapkan mereka akan menceritakan pengalaman baik itu ke seluruh dunia.
Di titik ini, keterlibatan warga harus menjadi satu perhatian khusus yang mesti dilakukan pemerintah. Pasalnya, arsitektur pariwisata Indonesia tidak sekadar keindahan alamnya, tetapi juga tradisi dan budayanya. Oleh karena itu, dibutuhkan secara mendasar edukasi terhadap masyarakat agar muncul kesadaran bahwa mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari industri ini. Misalnya, mereka diajak untuk senantiasa mempertahankan nilai adat istiadat dan budaya khas yang mereka miliki sebagai pembeda dari tujuan wisata lainnya. Output dari semua itu ialah terwujudnya pelayanan yang paripurna terhadap wisatawan.

Pemberdayaan masyarakat

Kota Guilin ialah satu dari empat kota tujuan pariwisata di Tiongkok yang direkomendasikan WTO. Sebelum reformasi ekonomi di Tiongkok, kota itu merupakan kawasan miskin. Keberhasilan Den Xiaoping mengintegrasikan antara masyarakat dan pariwisata, yang befokus pada eco-tourism, adventure travel, dan cultural travel, membuat perekonomian Kota Guilin berubah menjadi jauh lebih baik. Di Indonesia sendiri ada Bali yang berhasil dalam banyak aspek kehidupan masyarakatnya yang menunjukkan sinerginya dengan pariwisata.
Kita juga bisa belajar dari Nihiwatu atau Nihi Sumba Island yang terletak di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Daerah yang disebut terakhir ini ialah salah satu contoh terbaik untuk konsep sustainable tourism development. Nihiwatu secara konsisten berhasil membantu mengembangkan komunitas masyarakat di sekitar resor itu berada dengan berbagai kontribusinya, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan lingkungan. al paling pentingnya ialah 90% lebih pekerja Nihiwatu ialah masyarakat lokal sehingga memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat setempat. Keberhasilan Nihiwatu menerapkan konsep sustainable tourism development ini kemudian mendapatkan apresiasi selama dua tahun berturut-turut (2016 dan 2017) sebagai hotel terbaik di dunia, dalam ajang World’s Best Awards yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun oleh majalah Travel+Leisure.

Letak geografis Indonesia yang strategis, keanekaragaman bahasa dan suku bangsa, keadaan alam, flora dan fauna, peninggalan purbakala, serta peninggalan sejarah, seni, dan budayanya merupakan modal terbesar yang kita miliki dalam upaya mengembangkan dan memajukan pariwisata. Jika Indonesia mampu dan berhasil membangun pariwisata dengan baik, bukan tidak mungkin sumber perekonomian Indonesia yang dulu dibelah menjadi dua, yakni pendapatan migas dan pendapatan nonmigas, akan berubah menjadi pendapatan pariwisata dan pendapatan nonpariwisata.

Hal di atas ialah satu dari sekian banyak contoh keberhasilan sektor pariwisata yang terbukti telah memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Sektor pariwisata, jika benar pengelolaannya, sesungguhnya ialah sektor penggerak perekonomian yang bahan bakunya tidak akan pernah habis. Bila dikembangkan secara terencana dan terpadu, peran sektor pariwisata akan melebihi sektor migas yang selama ini menjadi primadona sumber pendapatan negara. Saat ini, dunia telah menyadari bahwa pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang penting. Bahkan negara seperti Arab Saudi saja tengah menggarap proyek spektakulernya di sekitar Laut Merah yang digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata termegah di Timur Tengah.

Kesadaran itu muncul tidak hanya karena mereka tidak akan bisa selamanya mengandalkan minyak, tetapi juga karena mereka mulai menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan negara yang cukup besar. Dari proyek Laut Merah dengan luas 34 ribu meter persegi tersebut Arab Saudi terobsesi oleh pemasukan negara sekitar US$5 miliar per tahunnya dan terciptanya lapangan kerja baru bagi 35 ribu warganya. Kini, saatnya pula bagi Indonesia untuk lebih serius mengelola sektor yang bisa membangkitkan ekonomi rakyat di akar rumput.

*Fungsionaris DPP Partai NasDem