Anarulita Muchtar1

dr. Anarulita Muchtar

Share with:


Anarulita Muchtar lahir 9 juni 1969, dan menghabiskan masa kanak-kanak, remaja dan sebagian usia dewasanya di Jakarta. Hingga pada 2000, ia dan keluarganya memutuskan hijrah dan menetap di Bengkulu. Masih mengendap dalam benaknya, suasana pergantian milenium ketiga di Jakarta yang marak dengan berbagai selebrasi penanda era baru peradaban dunia modern. Ternyata, ingar-bingat milenium itu tak dijumpainya di Bengkulu. Di situ, dia hanya menjumpai sepotong harapan akan penghidupan yang lebih baik, lantaran pemerintah tengah membuka lebar-lebar peluang bagi putra daerah untuk berkarya di kampung halamannya. Peluang itulah yang menuntun Dia dan keluarganya, menjadi abdi negara di tempat kelahiran orang tuanya.

Pengabdian di bidang kesehatan ia mulai di Puskesmas Cahaya Negeri pada 2001, bukan praktek sebagai dokter umum tapi langsung menjadi Kepala Puskesmas. Pengalaman sebagai dokter umum di berbagai klinik swasta di Jakarta, dinilai cukup untuk mejadi bekal ibu muda ini untuk memimpin Puskesmas, walau diakuinya, ternyata tantangannya lebih sulit dari yang dibayangkan.

Puskesmas yang dia pimpin berlokasi di kabupaten baru Saluma, yang baru saja dimekarkan dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Untuk menjalani tugas sehari-hari, dia harus menempuh perjalanan 27 Km dari tempat tinggal. Tentu saja, kondisi infrastruktur dan berbagai sarana penunjang di Bengkulu tak selengkap yang dulu ia jumpai di Jakarta.

Bagaimanapun juga, semua keterbatasan itu tak menyurutkan semangat Anarulita untuk mengabdi di daerah asalnya. Terbukti, tiga tahun memimpin Puskesmas dia berhasil menyediakan layanan dasar kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Di luar waktu dinasnya, ia juga mendirikan klinik pribadi tak jauh dari kediamannya di Kota Bengkulu, sehingga hari-harinya dipenuhi dengan dedikasi di bidang medis. Aktivitas itulah yang selama ini menempa dokter yang akrab disapa ana ini menjadi individu hangat dan rendah hati. Sembari menjalankan pengabdiannya, Ana menyaksikan secara langsung bagaimana geliat otonomi mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daerah.

Dia melihat, pembagian wewenang pemerintah itu telah melecut kemajuan provinsi-provinsi yang sebelumnya terhitung stagnan. Sayangnya, Ana tak melihat perkembangan itu terjadi di daerahnya sendiri, Provinsi Bengkulu. Dalam hematnya, daerah tempat ia berpijak itu masih ketinggalan dibanding provinsi lain di Pulau Sumatera, seperti Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Tak jarang semua itu membawanya pada berbagai perenungan, yang acap membuatnya merasa terenyuh.

Langkah Politik Memakmurkan Bengkulu

Atas berbagai pertimbangan, akhirnya ia memutuskan untuk terlibat dalam pergaulan politik, yang pada akhirnya membawa Ana di percaturan politik parlemen saat ini.

Baginya transformasi menjadi seorang politisi tidaklah mudah, apalagi sebelumnya dia mengaktualisasikan diri secara penuh sebagai dokter, dunia yang sangat berbeda dengan politik. Tapi dia tak mau menyerah pada keraguan, karena baginya, dokter atau pun politisi sama-sama mengemban tugas mulia untuk merajut kebajikan publik.

Integritas dan kapabilitas yang telah dia sandang selama ini, telah menempanya menjadi pribadi yang tegas dan berkomitmen penuh atas pilihan-pilihannya. Termasuk ketika ia memililih menjadi politisi. Tentu saja, semua debut politik itu juga mendapat dukungan penuh dari suaminya, yang terus meyakinkan Dr. Ana untuk berpolitik.

Satu keyakinan yang terus memotivasiny adalah bahwa langkah politik itu akan memberinya kesempatan untuk turut memakmurkan Kota Bengkulu, dan menumbuhkan segenap potensi yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu, dia terus berusaha merawat prinsip yang memandang politik sebagai etika untuk melayani, sebagaimana ia kenal dari pengalaman Johaness Leimana. Kencangnya arus pragmatisme mengguyur wajah politik Indonesia, tak menyurutkan sikapnya agar tetap amanah menjalankan fungsi dan tugas sebagai wakil rakyat.

Lima tahun masa baktinya di parlemen daerah membuahkan cerita manis. Bagi perempuan penyuka bubur ayam ini, menjadi bagian dari pembangunan Kota Bengkulu sungguh pengalaman yang luar biasa. Meski pun begitu, ia memutuskan untuk vakum pada periode berikutnya. Regulasi partai politik tak memungkinkannya terlibat kembali dalam kontestasi perebutan kursi dewan.

Baginya itu tak terlalu bermasalah, toh ia masih bisa mengabdi sebagai dokter. Ya, itu penting, karena baginya hidup adalah pengabdian. Tentu saja, hidup akan bermasalah jika seseorang tak memiliki kiprah pengabdian. Untuk memperdalam pengabdiannya itu juga-lah, Dia memperdalam spesialisasinya selaku dokter.

Jika sebelumnya ia hanya berpraktek sebagai dokter umum, setelah tak menjabat kursi di DPRD, ia melanjutkan pendidikan ilmu medisnya di bidang kecantikan dan akupuntur melalui serangkaian kursus medis.

Ternyata, Ana tetap tak bisa jauh-jauh dari garis lintasnya selaku insan politik. Kali ini, Surya Paloh menjadi sosok yang membuatnya berpikir untuk kembali lagi ke dunia politik. Meski secara personal ia tak kenal, tapi Anarulita kerap menyimak pidato-pidato politik pendiri Partai NasDem itu.

Pekik semangat Surya Paloh di atas podium, yang sering ia simak di media-media TV, kembali memicu memori romantis saat menjabat wakil rakyat di Kota Bengkulu. Tidak berpikir terlalu panjang lagi, Ana pun mendaftarkan diri sebagai anggota Partai NasDem.

Panasnya dinamika internal partai yang baru terbentuk tahun 2011 itu, tidak menjadi soal baginya. Ia sangat percaya pada penuntun politik yang amat ia kagumi yakni Bung Surya Paloh. Lebih dari sekedar persoalan materi, baginya sosok Surya Paloh adalah penyandang perangkat ideologi dan politik yang matang, sehingga layak dia jadikan teladan.

Benar saja, keputusannya masuk kembali ke dunia politik ternyata bersambut dengan suara konstituen. Ia berhasil menaklukan semua hambatan dalam proses Pemilihan Legislatif, hingga memenangkan satu kursi di DPR RI. Sampai saat ini, ia kadang masih tak percaya bahwa dirinya duduk di lembaga tinggi negara, yang menurut rakyat adalah salah satu lembaga terkorup di negeri ini.

Dokter Ana melihat kondisi itu sebagai tantangan untuk dirinya, dan segenap koleganya di Fraksi Partai NasDem. Bersama 35 anggota lain dari Fraksi NasDem, ia berjanji akan berjuang sekuat tenaga mewujudkan Gerakan Perubahan. Ia optimistis ketika semangat itu terus ia usung bersama rekan-rekan Partai NasDem, wajah parlemen akan bisa berubah. Sungguhpun peran sertanya di parlemen secara prinsip akan banyak meminta perhatian untuk rakyat Bengkulu, tapi mandat yang ia sandang sekarang jni juga bisa memberi efek kepada rakyat Indonesia keseluruhan.